Antara Orang Tua, Mertua, Dan Pengasuhan Anak


Pengasuhan Anak

Pengasuhan Anak

Tanya jawab Ayah bunda seputar hubungan orang tua, mertua, dan pengasuhan anak tercinta. Diantara Anda Pasti pernah mengalaminya. Apa saja ? Berikut beberapa pertanyaan dan solusinya Antara Orang Tua, Mertua, Dan Pengasuhan Anak

PERTANYAAN 1 :  Bagaimana bersikap tanpa  menyinggung perasaan mereka?

Orangtua dan mertua saya punya gaya pengasuhan anak yang berbeda. Mereka kadang-kadang suka saling sindir, misalnya, ”Kamu di rumah Eyang boleh makan sambil jalan-jalan, ya? Kalau di rumah Nenek tidak boleh, nggak sopan. Makan harus duduk.”.

JAWAB: Pada akhirnya pilihan gaya asuh kembali pada tangan Anda, orangtua.  Mulanya, tunjukan dulu ketertarikan Anda terhadap ‘ilmu pengasuhan’ yang diterapkan orangtua atau mertua. Selanjutnya, berikan pengertian kepada mereka bahwa cara mengasuh anak a la Anda mungkin berbeda dengan style mereka, ini hanya masalah preferensi saja. Asalkan selalu dikomunikasikan, hal ini semustinya tidak masalah. Dapatkan ilmu pengasuhan anak dari ayahbunda guna memperkaya pengetahuan dan keterampilan Anda dalam mengurus anak, dan agar Anda memiliki sumber referensi terpercaya dari para ahli. Biarkan orangtua dan mertua mengetahui hal ini, supaya mereka sadar Anda serius dan dapat membesarkan cucunya dengan baik.

PERTANYAAN 2 : Bagaimana cara terbaik menyampaikannya kepada ibu mertua?

Kedua nenek ingin mengasuh anak selama saya bekerja, tetapi saya merasa lebih nyaman bila ibu saya saja yang mengasuhnya.

JAWAB: Pastikan suami mendukung penuh keputusan Anda. Lalu berikan penjelasan sesopan dan semanis mungkin untuk menjaga perasaan ibu mertua yang “kurang dipercaya”. Memang, dibutuhkan keterampilan untuk  itu, namun ini lebih baik daripada berbohong sebab Anda akan terus berinteraksi dengan ibu mertua. Meskipun tidak mengasuh balita sehari-hari, pastikan  Anda memberi kesempatan juga bagi ibu mertua untuk ikut mengurus anak, misalnya pada akhir pekan, sebab para nenek butuh pengakuan dan rasa  ikut berkontribusi dalam membesarkan cucu.

PERTANYAAN 3 :  Bagaimana agar mertua tidak “mematahkan” pola asuh kami?

Mertua saya ketat dalam mendidik anak, berbeda dengan saya dan orangtua saya yang lebih longgar, demi memberi anak kesempatan berekspresi dan berkreativitas.

JAWAB: Jangan kibarkan bendera perang atau membentuk kubu-kubu dalam memperjuangkan pola asuh anak, sebab dampaknya kelak tidak baik bagi anak. Tetap sayangi dan hormati orangtua dari kedua belah pihak. Kapan pun Anda merasa dibuat kesal oleh mereka, ingat ini: para kakek-nenek tidak hanya menaruh harapan pada cucunya saja, melainkan juga pada anak-anak mereka agar dapat menjadi orangtua yang hebat. Mungkin mereka mendapati Anda “sangat berantakan” atau terlihat kurang bisa  mengelola stres menjadi orangtua,  maka secara natural ingin menawarkan bantuan, namun kerap caranya tidak berkenan.

PERTANYAAN 4 : Bagaimana agar anak menerima kedua nenek?

Kedua nenek balita Anda tinggal di luar kota sehingga jarang bertemu cucu. Anehnya, dengan ibu saya anak saya langsung “lengket”, bila  dipegang orangua suami seketika dia rewel.

JAWAB: Beberapa bayi termasuk tipe sensitif, sehingga membutuhkan waktu untuk bisa disentuh orang lain. Dalam hal ini, meski pun kedua nenek adalah hal baru baginya, namun barangkali teknik pendekatan dari satu nenek lebih jitu dibanding nenek yang lain.  Atau bisa juga pada saat bertemu orangtua Anda, mood anak sedang baik untuk menerima orang baru, sehingga hatinya mudah luluh.  Bisa juga dicek, apakah aroma khas tubuh nenek terlalu asing buat anak, sehingga dapat dibuat senetral mungkin agar anak lebih nyaman. Tetap semangati ibu mertua Anda untuk melakukan pendekatan pada cucunya.  Anda bisa memberinya tips-tips khusus, misalnya trik menarik perhatian anak dengan cara mengajak anak memainkan permainan yang sedang digemari, atau membuatkan makanan kesukaan.

PERTANYAAN 5 :  Mertua  saya menerapkan favoritisme. Sepertinya mereka lebih mesra dengan sepupu balita daripada kepada anak saya -keduanya balita. Akibatnya orangtua saya “panas”, mereka habis-habisan menyayangi anak saya seperti mengkompensasi kasih sayang 2 kakek-nenek. Tepatkah ini?

JAWAB: Minta bantuan suami untuk membicarakan hal ini dengan orangtuanya. Mungkin saja, selama ini ayah-ibunya tidak menyadari hal tersebut. Jelaskan pula hal ini kepada kedua orangtua  Anda, agar mereka tidak sakit hati lalu habis-habisan kepada cucu. Di atas semua itu, sebaiknya Anda menjaga nama baik dan hubungan baik kedua antara orangtua dan mertua, sehingga tidak ada potensi konflik di antara mereka, apalagi gara-gara cucu.

PERTANYAAN 6 :  Bolehkah satu anak diasuh secaar doper-oper 3 keluarga?

Sejak pensiun, mertua saya ingin mendapat jatah 2-3 hari dalam sepekan mengasuh anak. Padahal selama ini anak saya diasuh babysitter di bawah pengawasan orangtua saya yang tinggal satu kompleks, sebab kami pasangan bekerja.

JAWAB: Post power syndrome di hari tua, berupa sepinya situasi rumah saat ini, akibat anak-anaknya sudah meninggalkan rumah, dan depresi –sudah tidak ada kerjaan seperti waktu produktif dulu- kadang menjadi ‘perangkap’ yang membuat pasangan lansia ingin kembali eksis dengan cara ikut momong cucu.  Anggap saja ini bantuan ekstra sementara Anda sibuk bekerja. Libatkan saja mertua Anda, namun jika jarak rumahnya jauh untuk ditempuh balita, tidak perlu “kaku” seperti anak harus dibawa ke rumah mereka 2 hari dalam sepekan.  Berikan tugas yang sesuai dengan kebisaan anak dan orangtu, misalnya, mengajak anak berbelanja atau membacakan anak dongeng setiap pekannya. Selain berguna untuk mengisi waktu, bonding time tentu saja tercipta, bonusnya keterampilan sosial balita semakin kuat. banyak!

PERTANYAAN 7 :  Bagaimana membuat orangtua dan mertua berbaur dalam satu acara?  Saya selalu merasakan awkward moment manakala mereka berkumpul.

JAWAB: One big happy family’ adalah mimpi indah setiap pasangan muda. Namun, bukan hal baru  bahwa ketika disatukan dalam satu tempat, Anda akan menemukan banyak perbedaan antara gaya keluarga Anda dengan keluarga suami. Ini terjadi akibat latar belakang, kebiasaan, dan kepercayaan mereka yang berbeda. Anda dapat mengambil jalan tengah. Bekerja sama dengan suami,  sebelum pertemuan, ceritakan tipe dan gaya  orangtua dan mertua Anda pada kedua belah pihak, agar mereka tidak kaget. Misalnya, “Bu, kalau di keluarga besar Mama dan Papa, setiap berkumpul mereka pasti nyanyi karaoke keras-keras pakai  joged segala”. Atau “Ma, Ibu itu kalau makan pilih-pilih jadi jangan tersinggung kalau dia enggak makan masakan Mama.” Biarkan para kakek dan nenek mengetahui perbedaan itu dengan jelas, serta belajar menerima dan bertanggung jawab terhadap peran masing-masing. Pada saat acara, posisikan diri Anda dan suami sebagai moderator, dan anak bisa ikt menjadi ice breaker.

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *